30 December 2005

Pelepasliaran Harimau Konflik

Harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) adalah satwaliar yang termasuk dalam keluarga kucing besar. Satwa ini hidup secara alami hampir di seluruh bagian Pulau Sumatera. Berdasarkan data pada Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam Tahun 1995 populasi harimau sumatera di habitat alamnya di Kawasan Konservasi dan Hutan Lindung diperkirakan mencapai 400 – 600 ekor.

Harimau sumatera termasuk golongan hewan carnivora atau hewan pemangsa sejati yang hidup dengan cara memburu satwa mangsanya, seperti: rusa, kijang, kera, babi hutan dan satwa liar lainnya. Daya jelajahnya cukup tinggi dapat mencapai 30 – 60 km per hari dan memiliki teritorial yang dipertahankan (homerange).

Dalam kondisi yang sehat harimau sumatera memiliki masa kehamilam 110-115 hari dan dapat melahirkan anak 3-5 ekor. Satwa ini cukup unik karena memiliki tubuh yang besar, dengan warna bulu kuning keemasan diselingi oleh bulu hitam membentuk garis.

Jadi untuk mempertahankan kelestarian harimau sumatera yang perlu mendapat perhatian, adalah :

1. Kondisi habitat yang baik dan tersedianya air
2. Populasi satwa mangsa yang cukup
3. Areal yang cukup luas

Kenyataan saat ini habitat harimau di Pulau Sumatera telah banyak mengalami perubahan dan kerusakan. Hal ini sebagian besar diakibatkan oleh konversi hutan menjadi lahan pertanian, perkebunan, tanaman monokultur, jaringan jalan, pemukiman, perladangan masyarakat dan kebakaran hutan dan lahan serta perambahan.

Dari keadaan tersebut di atas secara mendasar terdapat lima pokok permasalahan yang menyebabkan populasi harimau sumatera di habitat alami terus menurun, yaitu :
  1. Terjadinya fragmentasi habitat
  2. Meningkatnya kerusakan habitat
  3. Tingginya perburuan harimau
  4. Meningkatnya perburuan satwa mangsa harimau
  5. Banyaknya pemindahan harimau penyebab konflik dari habitat alami ke lembaga konservasi eksitu.
Pemindahan harimau penyebab konflik dari lokasi kejadian ke lembaga konservasi eksitu telah pula menyabkan penurunan populasi harimau sumatera di habitat alami semakin cepat, jika proses ini terus berlangsung tidak mustahil akan terjadi kepunahan lokal.
Untuk mempertahankan kelestarian harimau sumatera yang perlu mendapat perhatian, adalah :
  1. Kondisi habitat yang baik dan tersedianya air
  2. Populasi satwa mangsa yang cukup
  3. Areal yang cukup luas

Untuk mengurangi laju penurunan poplasi akibat pemindahan harimau konflik ke luar habitat alaminya maka diperlukan tindakan pelepasliaran harimau penyebab konflik dari suatu tempat ke habitat alamminya yang kondisinya lebih baik, sehingga diharapkan harimau tersebut dapat hidup dengan baik di lokasi yang baru.

Peraturan Pemerintah RI Nomor 7 Tahun 1999 Tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, dalam pasal 26 ayat (1) menyatakan bahwa ”Satwa yang karena suatu sebab keluar dari habitatnya dan membahayakan kehidupan manusia, harus digiring atau ditangkap dalam keadaan hidup untuk dikembalikan kehabitatnya atau apabila tidak memungkinkan untuk dilepaskan kembali ke habitatnya, satwa dimaksud dikirim ke Lembaga Konservasi untuk dipelihara”.

Pada tanggal 16 September 2003 Team yang terdiri dari PKHS, The CITES Tiger Enforcement Task Force, Balai KSDA Riau dan Pemerintah Kota Dumai melakukan penanganan konflik antara harimau dengan masyarakat yang terjadi di Kelurahan Lubuk Gaung-Kecamatan Sungai Sembilan dengan cara serta menangkap, mengevakuasi, mengangkut dan melepasliarkan kembali di Kawasan Konservasi Harimau Sumatera Senepis Dumai.

Keberhasilan pelepasliaran harimau penyebab konflik ke habitat alaminya sangat tergantung pada kecepatan dalam penanganan konflik, yang dimulai dari penerimaan laporan, penangkapan, pengangkutan, dan pelepasliaran.

Pengalaman Team PKHS penangnan konflik, waktu yang dibutuhkan untuk mengevakuasi, memindahkan, mengangkut dan melepasliarkan harimau penyebab konflik dari Lokasi Kejadian ke Kawasan Konservasi Harimau Sumatera Senepis-Dumai membutuhkan waktu 2 - 3 hari. Waktu tersebut sebagian besar untuk perjalanan menggunakan Transportasi Darat, Sungai dan Laut selain itu sangat sederhananya teknik dan peralatan pelepasliaran juga mempengaruhi lambatnya proses pelepasliaran. Dengan waktu 2 - 3 hari tersebut kondisi harimau yang dilepasliarkan masih dalam keadaan sehat dan prima.

Setelah melakukan pelepas liaran harimau sumatera, team melakukan monitoring selama satu bulan di lapangan untuk mengetahui perkembangan terhadap satwa harimau tersebut. Hasil monitoring atas perkembangan di lapangan tidak ditemukan tanda-tanda bahwa harimau dimaksud keluar kembali dari habitat yang baru dan untuk sementara dapat disimpulkan bahwa harimau yang dilepasliarkan dapat hidup lebih baik.

Kegiatan pelepasliaran harimau penyebab konflik kembali kehabitatnya ini mungkin yang pertama kali di Indonesia dan bahkan sangat jarang sekali di Dunia.

Berdasarkan pengalaman dalam melepasliarkankan harimau penyebab konflik di Kawasan Konservasi Harimau Sumatera di Senepis, Kota Dumai, Propinsi Riau telah memberikan sumbangan informasi yang sangat berharga bagi perkembangan konservasi harimau sumatera di Indonesia, yaitu :
  1. Harimau penyebab konflik yang belum menimbulkan korban manusia jika dengan cepat dilepaskan kembali ke habitatnya dapat hidup secara normal di habitat yang baru.
  2. Untuk memudahkan kelancaran evakuasi atau pemindahan harimau dari lokasi kejadian ke habitatnya yang baru diperlukan kandang transfer yang kuat dan ringan, seperti terbuat dari alumunium.
  3. Pelaksanaan pemindahan dan pengangkutan harimau konflik dari lokasi kejadian ke lokasi peliaran sebaiknya dilaksanakan pada malam hari, hal ini untuk menjaga ketenangan harimau, temperatur udara yang dingin dapat mempercepat kesegaran harimau dan menghindari kerumunan serta meningkatkan keamanan mayarakat yang menonton.
  4. Ketersediaan pakan air minum dan air untuk mandi harimau dan perawatan selama proses pelepasliaran sangat membantu meningkatkan kesehatan harimau.
  5. Survey lokasi areal pelepasliaran harimau khususnya yang berkaitan dengan informasi tentang pemukiman, keberadaan satwa mangsa, keberadaan harimau sumatera dan kondisi habitat merupakan faktor penting yang mendukung keberhasilan pelepasliaran.
  6. Untuk lebih memperkuat dan memberikan dasar hukum bagi penanganan konflik harimau dengan masyarakat diperlukan suatu Standar Operasional Prosedur atau Protokol Penanganan Konflik Harimau dengan Manusia.

Sampai saat ini negara kita belum memiliki SOP Penanganan konflik antara harimau dengan manusia. Mengingat konflik antara harimau dengan manusia ahir-ahir ini semakin meningkat maka sudah waktunya disusun Standar Operasional Prosedur Penanganan Konflik antara harimau dengan manusia. Dengan adanya SOP Penanganan Konflik antara Harimau dengan manusia diharapkan penanganan konflik harimau dengan manusia dapat lebih care, share dan fair.

Sumber : Waldemar Hasiholan

1 Comments:

Anonymous Tourism Zones said...

semestinya hal ini harus menjadi perhatian khusus dan harus segera ditanggapi oleh semua kalangan agar kepunahan tersebut tidak terjadi.

12/7/09 22:09  

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home