17 May 2006

Sumatran Tiger Conservation Centre


PENDAHULUAN

Sebagai dampak dari pembangunan yang membutuhkan pembukaan wilayah hutan telah menyebabkan habitat harimau sumatera di Pulau Sumatera mengalami fragmentasi dan degradasi yang cukup berat, kondisi ini telah menyebabkan :
  1. Harimau sumatera yang populasinya sudah terancam punah dan statusnya dilindungi undang-undang menjadi terdesak lalu masuk ke pemukiman dan menimbulkan konflik yang menyebabkan korban jiwa, luka-luka dan kerugian harta benda.
  2. Selain itu populasi harimau yang terpencar di berbagai kawasan hutan yang terfragmentasi sebagian besar dari populasinya berada dibawah populasi normal (Viable Populastion) yang kondisinya sulit untuk dapat melangsungkan keturunannya dalam jangka panjang.

Upaya penanganan konflik antara harimau dengan manusia selama ini masih terbatas pada kegiatan menangkap harimau penyebab konflik dan memindahkannya ke Kebun Binatang atau Lembaga Konservasi Eksitu lainnya. Apabila upaya penanganan konflik seperti ini terus dilakukan maka akan terjadi kepunahan harimau sumatera secara lokal di alam dan selanjutnya akan terjadi kepunahan secara menyeluruh di habitat aslinya yaitu di Pulau Sumatera.

Oleh karena itu untuk menjamin kelestarian harimau sumatera di habitat alamnya perlu adanya langkah-langkah yang komprehensif yang dapat memecahkan persoalan konflik antara harimau dengan manusia dan dapat mengatasi ancaman terhadap kepunahan lokal akibat populasi harimau sumatera yang terlalu kecil dan terpencar di berbagai kawasan hutan. Salah satu upaya yang tepat adalah dengan membangun Pusat Konservasi Harimau Sumatera yang terletak di Pulau Sumatera.

PUSAT KONSERVASI HARIMAU SUMATERA

Pusat Konservasi Harimau Sumatera adalah suatu kawasan yang cukup luas yang dikelola secara intensif untuk tujuan perlindungan, pengawetan dan pelestarian pemanfaatan harimau sumatera di habitat alaminya.


Pusat Konservasi Harimau Sumatera terdiri atas :

  1. Areal yang berpagar dengan luas minimal 50 ha, yang terdiri atas sekat-sekat kamar yang berfungsi sebagai tempat pemeliharaan dan berkembang biak harimau sumatera secara semi alami.

Berita Lengkap...

05 May 2006

Tiger Protection Units

Tiger Protection Unit adalah Team Perlindungan Harimau dan Habitatnya yang terdiri atas Polisi Hutan dan Masyarakat Tempatan yang memiliki ketrampilan khusus dan dilengkapi dengan peralatan yang cukup untuk menanggulangi perburuan dan perdagangan liar harimau sumatera di Kawasan Konservasi dan Kawasan Hutan Lainnya.

Tujuan pembentukan Tiger Protection Unit (TPU) adalah mewujudkan perlindungan harimau, satwa mangsa dan habitatnya secara efektif dan efisien yang melibatkan masyarakat secara aktif.

Tugas Pokok

Melakukan pencegahan, penindakan dan penanganan kasus perburuan harimau sumatera dan mangsanya sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.

Fungsi

  1. Pencegahan perburuan harimau sumatera, melalui kegiatan :
    Melakukan patroli rutin dan mendadak didalam kawasan dan diluar kawasan yang terencana dengan baik.
  2. Memberikan penyuluhan dan sosialisasi konservasi harimau sumatera kepada masyarakat di dalam dan di luar kawasan.
  3. Penghancuran perangkap-perangkap harimau, melalui kegiatan :
    Mencari, menemukan dan menidakan serta menghancurkan perangkap-perangkap harimau dan satwa mangsanya yang dipasang oleh pemburu liar di dalam kawasan konservasi dan sekitarnya.
  4. Menyelamatkan harimau sumatera yang terperangkap atau terjerat dengan cara yang sangat berhati-hati dan meminta bantuan kepada institusi yang berkepentingan secepat mungkin jika diperlukan.
    Melakukan survey habitat-habitat inti harimau sumatera dan penyebarannya.
  5. Pemantuan populasi dan habitat harimau, melalui kegiatan :
    Melakukan pencatatan dan melaporkan terjadinya perjumpaan satwa harimau dan mangsanya baik secara langsug maupun tidak langsung.
  6. Melakukan pencatatan dan melaporkan terjadinya perusakan atau aktifitas yang dapat menyebabkan penurunan kwalitas habitat harimau, seperti : kebakaran hutan, pembukaan lahan, perambahan dan penebangan liar serta aktifitas lainnya.
  7. Pengawasan dan Identifikasi Pemburu serta Pedagang Harimau, melalui kegiatan :
    Mencari informasi, mengenali dan mengawasi aktifitas pemburu liar serta jaringan pemburu liar melalui kegiatan investigasi dan intelejen.
  8. Mengembangkan jaringan informasi dan intelejen.
  9. Penindakan Terhadap Pelaku Tindak Pidana :
    • Menerima dan menyelidiki atas kebenaran laporan atau informasi terjadinya suatu tindak pidana bidang konservasi hayati di wilayah kerjanya.
    • Menangkap secara langsung pelaku tindak pidana perburuan dan perdagangan harimau dan satwa mangsanya serta pelaku perusak habitat jika tertangkap tangan.
    • Melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (pemotretan, pengukuran, penentuan koordinat lokasi TKP, pengambilan sampel dll) dan pengamanan barang bukti seperti : Senjata api, peluru, jerat, tombak, tongkat, gergaji, kampak dan lain-lain yang dapat menjelaskan tindak pidana tetal trjadi.
    • Meminta dukungan dan bantuan personil maupun logistik apabila kurang mampu dalam melakukan penangkapan maupun.
    • Melaporkan kepada Petugas yang berwenang (POLHUT, Penyidik PNS dan Penyidik POLRI) atas setiap tindak pidana khusunya bidang Konservasi Keanekaragaman Hayati yang dijumpai pada saat melakukan patroli maupun tugas lainnya.
    • Melaporkan, Membuat dan Menandatangani Laporan Kejadian atas setiap kasus Tindak Pidana Bidang Konservasi Hayati yang ditemui/dijumpai.
    • Melakukan Tindakan Awal atas kasus tindak pidana bidang Konservasi Hayati yang tertangkap tangan maupun yang belum tertangkap tangan.
    • Melakukan atau membantu penyidikan atas Kasus Tindak Pidana yang terjadi jika sudah cukup bukti.

Formulasi TPU :

Setiap Unit TPU terdiri atas 1 orang Polisi Hutan BKSDA/BTN/Dinas Kehutanan sebagai Kepala Unit dan 3-4 orang dari anggauta masyarakat dan LSM sebagai anggota Unit.

Jabatan Dalam Tiger Protection Unit

  1. Koordinator TPU
    Adalah Staff PKHS atau petugas yang ditunjuk untuk membuat rencana operasi dan kegiatan TPU serta mengkoordinasikan semua pelaksanaan tugas pokok, fungsi dan kegiatan TPU bersama Kepala Balai/Dinas atau Pejabat yang bertanggung jawab dimana TPU beroperasi atau melakukan kegiatan.
  2. Ketua Unit TPU
    Adalah Polisi Hutan yang terseleksi dan mendapat penugasan penuh dari Atasan Langsungnya: Kepala Balai KSDA/TN dan Dinas Kehutanan. Bertanggung jawab atas kegiatan operasional TPU, secara teknis dia akan bekerja sesuai dengan prosedur/perintah teknis yang ditetapkan oleh Kepala Balai/Dinas yang bertanggungjawab diwilayah operasi mereka dan secara administrasi, keuangan dan pelaporan sesuai dengan instruksi dan peraturan Program Konservasi Harimau Sumatera.
    Memimpin TPU dalam melaksanakan kegiatan patroli, survey, pemantuan, investigasi, operasi dan kegiatan lainnya yang ditentukan oleh Koordinator TPU setelah berkonsultasi dengan Kepala Balai/Dinas.
  3. Anggota TPU
    Adalah anggauta masyarakat atau lembaga swadaya masyarakat yang memenuhi persyaratan dan telah mengikuti pelatihan TPU.
    Bertugas membantu Institusi Departemen Kehutanan di Lapangan (Balai KSDA dan Balai TN) dalam pelaksanaan kegiatan patroli, survey, pemantuan, investigasi, operasi dan kegiatan lainnya secara bertanggungjawab dan bersemangat dibawah kendali Balai KSDA/TN setempat.
    Anggauta TPU berkewajiban melaporkan terjadinya tindak pidana bidang konservasi sumberdaya alam hayati kepada petugas yang berwenang, melakukan monitoring dan evaluasi serta melaporkan hasil pelaksanaan kegiatan patroli, survey, pemantauan, investigasi dan kegiatan lain yang dillaksanakannya kepada Koordinator Project PKHS di Wilayah Kerja masing-masing.
  4. Informan
    Adalah seseorang, lembaga, badan hukum yang secara berkala, kontinu maupun situasional yang terikat dalam kontrak maupun tidak terikat kontrak yang bertugas maupun secara sukarela memberikan informasi positip dan negatip yang berkaitan dengan konservasi harimau sumatera dan perlu dilakukan tindak lanjut pembuktian maupun klarifikasi.

Peralatan dan Perlengkapan TPU

Untuk meningkatkan mobilitas dan kelancaran operasional di Lapangan, Tiger Protection Unit dilengkapi dengan sarana transportasi, komunikasi, peralatan navigasi, perlengkapan kamping dan peralatan lapangan lainnya.

Standarisasi Operasional

Standarisasi Kemampuan dan Pelatihan (photo2)

Standar Operasi Prosedur

  • Panduan Standar Penjagaan, Patroli dan Operasi Perlindungan Harimau
  • Dokumen Peraturan dan Perundang-undangan mengenai Harimau Sumatera
  • Protokol Penanganan Konflik Harimau dengan Masyarakat

Jumlah dan Penyebaran Tiger Protection Unit

Jumlah dan sebaran Tiger Protection Unit pada Program Konservasi Harimau Sumatera sampai dengan Tahun 2005 adalah sebagai berikut:

1. Di TN Way Kambas : 2 Unit TPU bekerjasama dengan RPU
2. Di TN Bukit Tigapuluh : 3 Unit Integrate Tiger Protection and Monitoring Unit
3. Di Dumai : 2 Unit Integrate Tiger Protection, Monitoring and Respont Unit

Beberapa Contoh Hasil Kerja TPU

TPU TN Way Kambas

  1. Tertangkapnya pelaku perburuan liar
  2. Laporan terjadinya penebangan liar
  3. Laporan terjadinya pengambilan ikan secara liar
  4. Laporan terjadinya kebakaran hutan secara dini
  5. Laporan terjadinya perambahan hutan
  6. Tertangkapnya pelaku penebangan liar
  7. Tertangkapnya pelaku pengambilan ikan secara liar
  8. Berhasi dimusnahkannya jerat dan perangkap satwa harimau dan badak
  9. Laporan pencurian hasil hutan non kayu

ITPMU TN Bukit Tigapuluh (English)

  1. Tertangkapnya jaringan perburuan dan perdagangan harimau
  2. Laporan dan informasi terjadinya penebangan liar
  3. Laporan terjadinya kebakaran hutan secara dini
  4. Berhasilnya dipadamkannya sumber api dan kebakaran dini
  5. Tertangkapnya pelaku illegal loging
  6. Berhasil dimusnahkannya jerat dan perangkap satwa harimau

ITPMRU Dumai (Kawasan Konservasi Harimau Sei Senepis (English))

  1. Melakukan penangkapan dan peliaran harimau penyebab konflik
  2. Terusir dan berhasil dihalaunya harimau penyebab konflik
  3. Terevakuasinya korban konflik harimau dengan baik
  4. Laporan dan informasi terjadinya penebangan liar
  5. Tertangkapnya pelaku penebangan liar


Berita Lengkap...

01 May 2006

Kesimpulan Working Group Tentang Penanganan dan Penerapan Hukum Terhadap Kasus Perburuan Harimau dan Satwa Dilundungi

Diskusi Lapangan - Penanganan Hukum atas Kasus Perburuan Harimau Sumatera

Tanggal 20 s/d 23 Mei 2004
Di Plang Ijo-Way Kambas, Lampung

Setelah mendengar dan membaca arahan, dan ekspose kegiatan dari Kepala Balai Taman Nasional Way Kambas, Kepala Balai Taman Nasional Bukit Barisan, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Lampung, Representative CITES Tiger Enfocement Task Force Indonesia, Direktur The Tiger Foundation/Sumatran Tiger Trust Indonesia Program, Program Manager Konservasi Harimau Sumatera, paparan dari PPNS Kehutanan TNBBS, Penyidik POLRI Polres Lampung Barat, Jaksa Penuntut Umum Kejari Lampung Barat dan Hakim Pengadilan Negeri Lampung Barat dan pembekalan dari Pengurus Besar PERBAKIN, hasil diskusi antara nara sumber dengan peserta diskusi serta orientasi lapangan di Taman Nasional Way Kambas, diperoleh kesimpulan sebagai berikut :

A. Pecegahan Terhadap Terjadinya Kasus Pemburuan

Pencegahan terhadap terjadinya kasus perburuan harimau sumatera dan satwa dilindungi lainnya, merupakan tindakan penting yang tidak dapat dipisahkan dari proses penegakan hukum di bidang konservasi hayati. Untuk mencegah terjadinya kasus perburuan harimau sumatera dan satwa dilindungi lainnya, kegiatan yang perlu ditingkatkan dan dilaksanakan, antara lain :
  • Sosialisasi dan penyuluhan hukum secara terpadu yang melibatkan unsur pengamanan dan penegak hukum dan lembaga swadaya masyarakat seperti : Instansi Kehutanan/KSDA/Taman Nasional, POLRI, Kejaksaan dan Pengadilan serta LSM terkait.
  • Meningkatkan kegiatan patroli rutin dan patroli mendadak secara fungsional oleh instansi Kehutanan/KSDA/Taman Nasional maupun patroli gabungan dengan POLRI dan instansi terkait lainnya sesuai kebutuhan.
  • Pendekatan secara persuasif, preventif dan pembinaan lainnya dilakukan sedini mungkin.
  • Memasang papan pengumuman dan papan peringatan pada tempat-tempat yang rawan dan strategis di lokasi kawasan konservasi.
  • Mengusulkan dan mendorong instansi dan lembaga yang berkepentingan untuk menerbitkan dan menetapkan Peraturan Daerah di bidang konservasi hayati khususnya perlindungan harimau sumatera dan satwa dilindungi lainnya beserta habitatnya.
B. Penegakan Hukum Terhadap Kasus Perburuan Satwa Dilindungi
  • Penanganan dan penerapan hukum terhadap kasus tindak pidana di bidang konservasi hayati khususnya perburuan harimau sumatera dan satwa dilindungi lainnya saat ini masih dirasakan belum menjadi prioritas. Oleh karena itu peserta diskusi mengusulkan kepada institusi yang berkepentingan agar supaya tindak pidana di bidang konservasi hayati khususnya perburuan harimau sumatera dan satwa dilindungi lainnya mendapat prioritas dalam penanganannya.
  • Jajaran Polhut, PPNS Kehutanan, Penyidik POLRI, Jaksa Penuntut Umum dan Hakim Pengadilan Negeri peserta diskusi, setuju bahwa penanganan dan penerapan hukum terhadap kasus perburuan harimau sumatera dan satwa dililindungi lainnya didasarkan pada perundang-undangan dan peraturan yang berlaku dengan penuh semangat, terpadu dalam suasana kebersamaan dan keterbukaan.
  • Dalam rangka memberantas, mengurangi dan mencegah terjadinya tindak pidana ”perburuan harimau sumatera dan satwa dilindungi lainnya”, jajaran Polhut, PPNS Kehutanan, Penyidik POLRI, Jaksa Penuntut Umum dan Hakim Pengadilan Negeri peserta diskusi setuju dan mengusulkan untuk menyelidiki, mengusut, menyidik, menuntut dan mengadili ”tersangka yang secara nyata menyuruh berburu, memesan, membantu, menampung, menjual, membeli, menggunakan hasil buruan harimau sumatera dan satwa dilindungi lainnya baik dalam keadaan hidup, mati, maupun bagian-bagiannya ataupun produk-produknya” dan apabila diperlukan dapat dipertimbangkan apakah ketentuan di dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 perlu direvisi, terutama mengenai sanksi pidana (misalnya dimasukkan ketentuan ancaman pidana penjara minimal dan penambahan ancaman maksimalnya).
C. Prosedur Penanganan Kasus
  • Prosedur penanganan kasus tindak pidana konservasi hayati mulai dari penyelidikan, penyidikan, penuntutan dan pengadilan tetap mengacu pada perundang-udangan dan peraturan yang berlaku sebagaimana diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana.
  • Dalam penanganan kasus tindak pidana di bidang konservasi hayati oleh Polhut dan PPNS Kehutanan, sebaiknya Penyidik POLRI, Jaksa Penuntut Umum dan Hakim Pengadilan Negeri dilibatkan sedini mungkin dan diikut sertakan dalam pemeriksaan lokasi TKP.
  • Barang bukti hasil tindak pidana di bidang konservasi hayati, sebaiknya tidak dilelang tetapi dimusnahkan atau dilepasliarkan kembali ke habitat alaminya atau diserahkan kepada lembaga konservasi ek-situ atau kepada lembaga pendidikan dan penelitian untuk kepentingan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan.
D. Koordinasi dan Kerjasama
  • Dalam rangka menyamakan persepsi dan keseragaman tindak serta keterpaduan dalam penegakan hukum, diskusi dan konsultasi antara aparat pengaman dan penegak hukum seperti Polhut, PPNS Kehutanan, Penyidik POLRI, Jaksa Penuntut Umum dan Hakim Pengadilan, perlu lebih ditingkatkan.
  • Untuk lebih meningkatkan keberhasilan dalam pelaksanaan penegakan hukum terhadap perburuan harimau sumatera dan satwa dilindungi lainnya, mitra kerja PHKA peserta diskusi yang berada di lokasi kejadian dan sekitarnya siap memberikan dukungan sarana dan prasarana, bantuan fasilitasi, bahan dan informasi serta dukungan financial sesuai kemampuan yang ada berdasarkan skala prioritas kepentingan.
  • Mengusulkan dikembangkannya jaringan informasi dan kerjasama yang baik antar aparat pangamanan dan penegak hukum serta lembaga swadaya masyarakat dan media massa, sebagai wadah diskusi dan konsultasi yang berfungsi untuk memberikan saran dan pertimbangan serta dukungan materiil, informasi dan financial untuk mempercepat pemecahan masalah yang dihadapi dalam penanganan kasusnya, di Tingkat Pusat sampai Tingkat Operasional di Lapangan.
  • Mengusulkan dibentuknya tim taktis yang bertugas mengumpulkan data dan informasi mengenai jaringan perburuan dan perdagangan harimau sumatera dan satwa dilindungi lainnya serta menghimpun informasi kasus-kasus perburuan harimau sumatera dan satwa dilindungi lainnya yang sedang dan telah ditangani oleh pengadilan di seluruh Wilayah Lampung. Tim taktis tersebut terdiri atas aparat pengamanan dan penegak hukum serta lembaga swadaya masyarakat yang berkecimpung di bidang konservasi hayati.
Demikian kesimpulan diskusi ini dibuat sebagai bahan masukan dan kajian, untuk lebih meningkatkan kerjasama antara aparat pengamanan dan penegak hukum serta masyarakat dalam menegakkan perundang-undangan dan peraturan yang berlaku di bidang konservasi hayati, khususnya penanganan kasus perburuan harimau sumatera dan satwa dilindungi lainnya.

Plang Ijo-Way Kambas, Lampung, 23 Mei 2004

Penyelenggara Diskusi :
Kepala Balai TN Way Kambas (Ir. Mega Haryanto)
Kepala Balai TN Bukit Barisan Selatan (Drs.Tamen Sitorus,MSc)
Kepala Balai KSDA Lampung (Ir. Puja Santosa, MSc)
Direktur TTF-STT Indonesia Program (Neil Franklin, PhD)
Manager PKHS (Ir. Waldemar H, MSi)
CITES Tiger Task Force Indonesia (Dr.Ir. DW Sinaga, MSc)

Berita Lengkap...

13 April 2006

Meningkatnya Harapan Dalam Pelestarian Harimau Sumatera

Sebagaimana diketahui bersama bahwa menurunya populasi harimau sumatera di alam disebabkan oleh banyak faktor yang saling mempengaruhi dan terjadi secara simultan. Faktor-faktor penyebab tersebut diantaranya, adalah:

1) Menurunnya kwalitas dan kwantitas habitat harimau akibat konversi hutan, eksploitasi hutan, penebangan liar, perambahan hutan, kebakaran hutan dan lain-lain

2) Fragmentasi Habitat akibat Perencanaan Tata Guna Lahan dan penggunaan lahan dan hutan yang kurang memperhatikan aspek-aspek konservasi satwa liar khususnya harimau

3) Kematian harimau sumatera secara langsung untuk kepentingan ekonomi, estetika, hobby dan mempertahankan diri karena terjadinya konflik antara harimau dengan masyarakat

4) Penangkapan dan pemindahan harimau sumatera dari habitat alami ke lembaga konservasi eksitu karena adanya konflik

5) Menurunya populasi satwa mangsa harimau karena berpindah tempat maupun diburu oleh masyarakat.

6) Selain itu rendahnya penegakan hukum dan rendahnya unsur-unsur management konservasi harimau sumatera dan kesadaran masyarakat dalam konservasi alam telah mempercepat penurunan populasi harimau sumatera di habitatnya.

Program Konservasi Harimau Sumatera dalam Tahun 2005 telah berupaya melakukan pemetaan habitat alami harimau sumatera yang masih memungkinkan untuk dipertahankan dan diselamatkan sebagai habitat inti harimau sumatera di masa mendatang.

Di Pulau Sumatera terdapat Tujuh Blok Hutan dengan daya dukung habitat melebihi 100 individu harimau yang dalam management populasi disebut sebagai Populasi Sehat dan Independent, Empat Blok Hutan dengan daya dukung habitat 50-100 individu harimau yang disebut sebagai Populasi Sehat Dengan Pengelolaan, Delapan Blok Hutan dengan daya dukung habitat 25-50 individu yang disebut sebagai Populasi Yang Berpotensi Sehat Dengan Pengelolaan Intensip. Dengan mempertimbang kan Daya Dukung Habitat pada blok-blok hutan tersebut maka secara umum Daya Dukung Habitat Harimau Potensial di Pulau Sumatera diperkirakan mencapai 2.905 individu harimau sumatera.

Populasi Harimau Sumatera yang saat ini diperkirakan hanya 400-600 individu masih berada jauh di bawah Daya Dukung Habitatnya. Selain itu sebagian dari populasi harimau tersebut berada pada habitat yang daya dukung habitatnya kecil sehingga akan mempercepat kepunahan lokal.

Untuk mencegah kepunahan harimau secara total diperlukan tindakan pengelolaan harimau sumatera yang secara komprehensip dapat mengatasi persoalan konservasi. Program Konservasi Harimau Sumatera dalam melestarikan harimau sumatera diantaranya telah berupaya untuk melakukan dan memfasilitasi : Kegiatan penyelamatkan kantong-kantong habitat harimau sumatera yang berada di Dalam Kawasan Konservasi dan Diluar Kawasan Konservasi, Kegiatan perlindungan harimau sumatera, satwa mangsa dan habitatnya, Penegakan hukum dibidang wildlife crime yang melibatkan masyarakat, Penguatan Institusi dan SDM yang terkait dengan pelestarian harimau sumatera dan Membuat Protokol Penanganan Konflik antara harimau dengan masyarakat.

Persetujuan Menteri Kehutanan untuk menetapkan Hutan Produksi pada sebagian Kelompok Hutan Senepis-Buluhala seluas 106.081 ha di Kota Dumai Propinsi Riau sebagai Kawasan Konservasi Harimau Sumatera, merupakan dukungan yang besar dalam upaya melestarikan harimau sumatera.

Kegiatan Study Hight Conservation Value of Forest yang dilakukan oleh Program Konservasi Harimau Sumatera pada areal Hutan Produksi yang akan ditebang habis telah menyumbangkan sebagian habitat harimau sumatera yang esensial untuk diselamatkan.

Usulan Perluasan Taman Nasional Bukit Tigapuluh dari 143.143 ha menjadi 296.219 ha untuk kepentingan konservasi bioekologi dan peningkatan perlindungan sistem penyangga kehidupan di Wilayah Propinsi Riau dan propinsi Jambi, akan menjadikan kawasan ini sebagai habitat harimau sumatera dengan populasi yang paling mantap dan independent.

Peningkatan Kwalitas Sumber Daya Manusia, Perlindungan Harimau Sumatera dan habitatnya serta Penguatan Kelembagaan dan Penegakan Hukum dilaksanakan dalam bentuk Penyelenggaraan Tiger Protection Training, Wildlife Protection Integrated Training, Pembentukan Tiger Protection Unit, Intensif Patroli Perlindungan Harimau dan Habitatnya serta Pengembangan jaringan dan kegiatan intelejen.

Dengan dibentuknya Tim Penanggulangan Perburuan Illegal Hariimau Sumatera dan Jenis-Jenis Satwa Liar Dilindungi Lainnya di Propinsi Riau dan Propinsi Jambi yang ditetapkan dengan Surat Keputusan Gubernur Riau Nomor: Kpts.339/VII/2005 Tanggal 07 Juni 2005 dan Surat Keputusan Gubernur Jambi Nomor: 235 Tahun 2005 Tanggal 12 Juli 2005 telah memberikan dukungan yang besar dalam percepatan penyelesaian dan penanganan kasus tindak pidana bidang satwa liar.

Monitoring Program Konservasi Harimau Sumatera terhadap populasi harimau sumatera di TN Way Kambas, TN Bukit Tigapuluh, Kelompok Hutan Senepis Dumai, Kelompok Hutan Kampar di Propinsi Riau dan Pengalaman penanggulangan konflik antara harimau dengan masyarakat yang terjadi di Kota Dumai, Kabupaten Indragiri Hilir, kabupaten Pelalawan di Propinsi Riau dan Kota Padang dan Paya Kumbuh di Propinsi Sumatera Barat telah menyumbangkan informasi yang sangat berarti bagi perkembangan dan kemajuan konservasi harimau sumatera. Diantaranya adalah diperolehnya Data Ganbar Tiga Generasi Harimau Sumatera Di TN Way Kambas, dengan data : Tahun 1997 Upik - Tahun 1998 Anak Upik : Tessy, Mayang dan Gogon - Tahun 2004 Anak Mayang : Nick dan Emy

Seiring dengan meningkatnya kesadaran Aparatur Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, Pengusaha Pengelola Hutan dan Sumber Daya Alam, serta Masyarakat terhadap upaya konservasi harimau sumatera telah pula meningkatkan harapan dalam melestarikan harimau sumatera dihabitatnya.


Waldemar Hasiholan Sinaga

Program Konservasi Harimau Sumatera

Kerjasama antara Departemen Kehutanan dengan
The Tiger Foundation dan Sumatran Tiger Trust


Berita Lengkap...

30 December 2005

Pelepasliaran Harimau Konflik

Harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) adalah satwaliar yang termasuk dalam keluarga kucing besar. Satwa ini hidup secara alami hampir di seluruh bagian Pulau Sumatera. Berdasarkan data pada Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam Tahun 1995 populasi harimau sumatera di habitat alamnya di Kawasan Konservasi dan Hutan Lindung diperkirakan mencapai 400 – 600 ekor.

Harimau sumatera termasuk golongan hewan carnivora atau hewan pemangsa sejati yang hidup dengan cara memburu satwa mangsanya, seperti: rusa, kijang, kera, babi hutan dan satwa liar lainnya. Daya jelajahnya cukup tinggi dapat mencapai 30 – 60 km per hari dan memiliki teritorial yang dipertahankan (homerange).

Dalam kondisi yang sehat harimau sumatera memiliki masa kehamilam 110-115 hari dan dapat melahirkan anak 3-5 ekor. Satwa ini cukup unik karena memiliki tubuh yang besar, dengan warna bulu kuning keemasan diselingi oleh bulu hitam membentuk garis.

Jadi untuk mempertahankan kelestarian harimau sumatera yang perlu mendapat perhatian, adalah :

1. Kondisi habitat yang baik dan tersedianya air
2. Populasi satwa mangsa yang cukup
3. Areal yang cukup luas

Kenyataan saat ini habitat harimau di Pulau Sumatera telah banyak mengalami perubahan dan kerusakan. Hal ini sebagian besar diakibatkan oleh konversi hutan menjadi lahan pertanian, perkebunan, tanaman monokultur, jaringan jalan, pemukiman, perladangan masyarakat dan kebakaran hutan dan lahan serta perambahan.

Dari keadaan tersebut di atas secara mendasar terdapat lima pokok permasalahan yang menyebabkan populasi harimau sumatera di habitat alami terus menurun, yaitu :
  1. Terjadinya fragmentasi habitat
  2. Meningkatnya kerusakan habitat
  3. Tingginya perburuan harimau
  4. Meningkatnya perburuan satwa mangsa harimau
  5. Banyaknya pemindahan harimau penyebab konflik dari habitat alami ke lembaga konservasi eksitu.
Pemindahan harimau penyebab konflik dari lokasi kejadian ke lembaga konservasi eksitu telah pula menyabkan penurunan populasi harimau sumatera di habitat alami semakin cepat, jika proses ini terus berlangsung tidak mustahil akan terjadi kepunahan lokal.
Untuk mempertahankan kelestarian harimau sumatera yang perlu mendapat perhatian, adalah :
  1. Kondisi habitat yang baik dan tersedianya air
  2. Populasi satwa mangsa yang cukup
  3. Areal yang cukup luas

Untuk mengurangi laju penurunan poplasi akibat pemindahan harimau konflik ke luar habitat alaminya maka diperlukan tindakan pelepasliaran harimau penyebab konflik dari suatu tempat ke habitat alamminya yang kondisinya lebih baik, sehingga diharapkan harimau tersebut dapat hidup dengan baik di lokasi yang baru.

Peraturan Pemerintah RI Nomor 7 Tahun 1999 Tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, dalam pasal 26 ayat (1) menyatakan bahwa ”Satwa yang karena suatu sebab keluar dari habitatnya dan membahayakan kehidupan manusia, harus digiring atau ditangkap dalam keadaan hidup untuk dikembalikan kehabitatnya atau apabila tidak memungkinkan untuk dilepaskan kembali ke habitatnya, satwa dimaksud dikirim ke Lembaga Konservasi untuk dipelihara”.

Pada tanggal 16 September 2003 Team yang terdiri dari PKHS, The CITES Tiger Enforcement Task Force, Balai KSDA Riau dan Pemerintah Kota Dumai melakukan penanganan konflik antara harimau dengan masyarakat yang terjadi di Kelurahan Lubuk Gaung-Kecamatan Sungai Sembilan dengan cara serta menangkap, mengevakuasi, mengangkut dan melepasliarkan kembali di Kawasan Konservasi Harimau Sumatera Senepis Dumai.

Keberhasilan pelepasliaran harimau penyebab konflik ke habitat alaminya sangat tergantung pada kecepatan dalam penanganan konflik, yang dimulai dari penerimaan laporan, penangkapan, pengangkutan, dan pelepasliaran.

Pengalaman Team PKHS penangnan konflik, waktu yang dibutuhkan untuk mengevakuasi, memindahkan, mengangkut dan melepasliarkan harimau penyebab konflik dari Lokasi Kejadian ke Kawasan Konservasi Harimau Sumatera Senepis-Dumai membutuhkan waktu 2 - 3 hari. Waktu tersebut sebagian besar untuk perjalanan menggunakan Transportasi Darat, Sungai dan Laut selain itu sangat sederhananya teknik dan peralatan pelepasliaran juga mempengaruhi lambatnya proses pelepasliaran. Dengan waktu 2 - 3 hari tersebut kondisi harimau yang dilepasliarkan masih dalam keadaan sehat dan prima.

Setelah melakukan pelepas liaran harimau sumatera, team melakukan monitoring selama satu bulan di lapangan untuk mengetahui perkembangan terhadap satwa harimau tersebut. Hasil monitoring atas perkembangan di lapangan tidak ditemukan tanda-tanda bahwa harimau dimaksud keluar kembali dari habitat yang baru dan untuk sementara dapat disimpulkan bahwa harimau yang dilepasliarkan dapat hidup lebih baik.

Kegiatan pelepasliaran harimau penyebab konflik kembali kehabitatnya ini mungkin yang pertama kali di Indonesia dan bahkan sangat jarang sekali di Dunia.

Berdasarkan pengalaman dalam melepasliarkankan harimau penyebab konflik di Kawasan Konservasi Harimau Sumatera di Senepis, Kota Dumai, Propinsi Riau telah memberikan sumbangan informasi yang sangat berharga bagi perkembangan konservasi harimau sumatera di Indonesia, yaitu :
  1. Harimau penyebab konflik yang belum menimbulkan korban manusia jika dengan cepat dilepaskan kembali ke habitatnya dapat hidup secara normal di habitat yang baru.
  2. Untuk memudahkan kelancaran evakuasi atau pemindahan harimau dari lokasi kejadian ke habitatnya yang baru diperlukan kandang transfer yang kuat dan ringan, seperti terbuat dari alumunium.
  3. Pelaksanaan pemindahan dan pengangkutan harimau konflik dari lokasi kejadian ke lokasi peliaran sebaiknya dilaksanakan pada malam hari, hal ini untuk menjaga ketenangan harimau, temperatur udara yang dingin dapat mempercepat kesegaran harimau dan menghindari kerumunan serta meningkatkan keamanan mayarakat yang menonton.
  4. Ketersediaan pakan air minum dan air untuk mandi harimau dan perawatan selama proses pelepasliaran sangat membantu meningkatkan kesehatan harimau.
  5. Survey lokasi areal pelepasliaran harimau khususnya yang berkaitan dengan informasi tentang pemukiman, keberadaan satwa mangsa, keberadaan harimau sumatera dan kondisi habitat merupakan faktor penting yang mendukung keberhasilan pelepasliaran.
  6. Untuk lebih memperkuat dan memberikan dasar hukum bagi penanganan konflik harimau dengan masyarakat diperlukan suatu Standar Operasional Prosedur atau Protokol Penanganan Konflik Harimau dengan Manusia.

Sampai saat ini negara kita belum memiliki SOP Penanganan konflik antara harimau dengan manusia. Mengingat konflik antara harimau dengan manusia ahir-ahir ini semakin meningkat maka sudah waktunya disusun Standar Operasional Prosedur Penanganan Konflik antara harimau dengan manusia. Dengan adanya SOP Penanganan Konflik antara Harimau dengan manusia diharapkan penanganan konflik harimau dengan manusia dapat lebih care, share dan fair.

Sumber : Waldemar Hasiholan

Berita Lengkap...

28 December 2005

Konservasi Harimau Sumatera Secara Komprehensif

Populasi Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatraensis) di habitat alaminya secara menyeluruh belum diketahui secara tepat, namun dapat dipastikan bahwa populasinya saat ini sudah dalam kondisi sangat kritis. Tahun 1994 diperkirakan populasi harimau sumatera yang hidup liar hanya 500-600 ekor saja dan itupun hidup tersebar dalam populasi-populasi kecil di Dalam Kawasan Konservasi dan di Luar Kawasan Konservasi. Sementara itu Direktorat Jederal PHKA memeperkirakan setiap tahunnya 30 ekor harimau sumatera mati akibat perburuan. Kondisi seperti ini apabila tidak ditangani secara serius dan intensif dapat dipastikan bahwa populasi harimau sumatera di alam akan menurun secara cepat dan dalam waktu yang tidak lama akan punah seperti yang telah terjadi pada harimau Bali, Kaspia dan harimau Jawa yang sudah dianggap punah.

Menurunya populasi harimau Sumatera di alam disebabkan oleh banyak factor yang saling mempengaruhi dan terjadi secara simultan. Factor-faktor penyebab tersebut diantaranya, adalah:
  1. Informasi dan pengetahuan di bidang bio-ekologi harimau sumatera masih terbatas.
  2. Menurunnya kwalitas dan kwantitas habitat harimau sumatera akibat konversi hutan, eksploitasi hutan, penebangan liar, perambahan hutan, kebakaran hutan dan lain-lain
  3. Fragmentasi Habitat akibat Perencanaan Tata Guna Lahan dan penggunaan lahan dan hutan yang kurang memperhatikan aspek-aspek konservasi satwa liar khususnya harimau sumatera.
  4. Kematian harimau sumatera secara langsung sebagai akibat dari perburuan untuk kepentingan ekonomi, estetika, pengobatan tradisional, magis, olahraga dan hobby serta mempertahankan diri karena terjadinya konflik antara harimau dengan masyarakat.
  5. Penangkapan dan pemindahan harimau sumatera dari habitat alami ke lembaga konservasi eksitu karena adanya konflik atau kebutuhan lain.
  6. Menurunya populasi satwa mangsa harimau karena berpindah tempat maupun diburu oleh masyarakat.
  7. Rendahnya unsur-unsur management pengelola konservasi harimau sumatera.
  8. Rendahnya kesadaran masyarakat dalam konservasi alam dan rendahnya penegakan hukum dibidang “Wildlife Crime” telah pula mempercepat penurunan populasi harimau sumatera di alam.
Untuk mencegah terjadinya kepunahan harimau sumatera dan memulihkan kembali populasi-populasi harimau yang berada pada tingkat tidak sehat ke tingkat populasi sehat diperlukan tindakan yang secara simultan dapat mengatasi faktor-faktor penyebab kepunahan harimau sumatera tersebut di atas.

Sumatera Tiger Conservation Program sebagai bentuk Kerjasama antara Departemen Kehutanan dengan The Tiger Foundation Canada dan Sumatran Tiger Trust Inggris berupaya untuk mengembangkan program konservasi harimau sumatera yang secara komprehensip dapat mengatasi faktor-faktor penyebab menurunnya populasi harimau sumatera. Upaya konservasi yang dilaksanakan oleh Program Konservasi Harimau sumatera di antaranya adalah:
  1. Melakukan studi bioekologi harimau sumatera.
  2. Melakukan perluasan habitat harimau sumatera yang berada diluar kawasan konservasi sebagai kawasan yang dilindungi untuk konservasi harimau sumatera.
  3. Meningkatkan kegiatan perlindungan harimau sumatera dan habitatnya.
  4. Meningkatkan kesadaran masyarakat akan konservasi alam dan meningkatkan kwalitas penegakan hukum dibidang ”Wildlife Crime”
  5. Meningkatkan kwalitas penanganan konflik antara harimau dengan masyarakat yang dapat menjamin kelesatrian harimau sumatera.
  6. Monitoring populasi harimau sumatera dihabitat alaminya dalam jangka panjang.
  7. Meningkatan kwalitas sumber daya manusia dan kerjasama pengelolaan antara seluruh institusi yang berkepentingan terhadap kelestarian harimau sumatera.
  8. Mengembangan Strategi Konservasi Harimau Sumatera di Masa Depan
Bioekologi Harimau Sumatera
Harimau Sumatera atau Panthera tigris sumatrae (Pocock, 1929) secara taksonomi dalam biologi termasuk dalam :

Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Subphylum : Vertebrata
Kelas : Mammalia
Infra kelas : Eutheria
Ordo : Carnivora
Sub ordo : Fissipedia
Super famili : Felloidea
Famili : Felidae
Sub famili : Pantherina
Genus : Panthera
Spesies : Panthera tigris
Subspesies : Panthera tigris sumatrae

Selain Panthera tigris sumatrae masih terdapat tujuh subspesies lain yang juga termasuk dalam spesies Panthera tigris yaitu :
  • Harimau India atau Harimau Bengala (Panthera tigris tigris),
  • Harimau Siberia (Panthera tigris altaica),
  • Harimau Cina atau Amoy (Panthera tigris amoyensis),
  • Harimau Indo-Cina (Panthera tigris corbetti),
  • Harimau Kaspia (Panthera tigris virgata) yang punah sekitar tahun 1950,
  • Harimau Jawa (Panthera tigris sondaica), terdapat di Jawa, Indonesia, dinyatakan punah sekitar tahun 1980, dan
  • Harimau Bali (Panthera tigris balica), terdapat di Bali dan dinyatakan punah tahun 1937.
Panjang Harimau Sumatera jantan dapat mencapai 2,2 – 2,8 meter, sedangkan betina 2,15 – 2,3 meter. Tinggi diukur dari kaki ke tengkuk rata-rata adalah 75 cm, tetapi ada juga yang mencapai antara 80 – 95 cm, dan berat 130 – 255 kg. Hewan ini mempunyai bulu sepanjang 8 – 11 mm, surai pada Harimau Sumatera jantan berukuran 11 – 13 cm. Bulu di dagu, pipi, dan belakang kepala lebih pendek. Panjang ekor sekitar 65 – 95 cm (Direktorat Pelestarian Alam, 1986 ; Hafild dan Aniger, 1984 ; Kahar, 1997 ; Macdonald, 1986 ; Mountfort, 1973 ; Saleh dan Kambey, 2003 ; Sutedja dan Taufik, 1993 ; Suwelo dan Somantri, 1978 ; Treep, 1973).

Harimau Sumatera, seperti halnya dengan jenis-jenis harimau lainnya, adalah jenis satwa yang mudah beradaptasi dengan kondisi lingkungan tempat tinggalnya di alam bebas. Kondisi mutlak yang mempengaruhi pemilihan habitat seekor harimau adalah :
  1. Adanya habitat dengan kwalitas yang baik termasuk vegetasi cover sebagai tempat berteduh dan beristirahat agar bisa terlindung dari dari panas dan sebagai tempat untuk membesarkan anak serta berburu.
  2. Terdapat sumber air, karena satwa ini hidupnya sangat tergantung pada air untuk minum, mandi, dan berenang
  3. Tersedianya mangsa dalam jumlah yang cukup.
Tipe lokasi yang biasanya menjadi pilihan habitat Harimau Sumatera di Indonesia bervariasi, dengan ketinggian antara 0 – 3000 meter dari permukaan laut, seperti :
  1. Hutan hujan tropik, hutan primer dan sekunder pada dataran rendah sampai dataran tinggi pegunungan, hutan savana, hutan terbuka, hutan pantai, dan hutan bekas tebangan
  2. Pantai berlumpur, mangrove, pantai berawa payau, dan pantai air tawar
  3. Padang rumput terutama padang alang-alang
  4. Daerah datar sepanjang aliran sungai, khususnya pada sungai yang mengalir melalui tanah yang ditutupi oleh hutan hujan tropis
  5. Juga sering terlihat di daerah perkebunan dan tanah pertanian
  6. Selain itu juga banyak harimau ditemui di areal hiutan gambut.
Harimau Sumatera termasuk jenis Carnivora yang biasanya memangsa : Rusa Sambar (Cervus unicolor), Kijang (Muntiacus muntjak), Kancil (Tragulus sp.), dan Babi hutan liar (Sus sp.). Kerbau liar (Bubalus bubalis), Tapir (Tapirus indicus), Kera (Macaca irus), Langur (Presbytis entellus),Landak (Hystrix brachyura),Trenggiling (Manis javanica), Beruang madu (Heralctos malayanus), jenis-jenis Reptilia seperti kura-kura, ular, dan biawak, serta berbagai jenis burung, ikan, dan kodok dan jenis-jenis satwa liar lainnya. Hewan peliharaan atau ternak yang juga sering menjadi mangsa harimau adalah Kerbau, kambing, domba, sapi, Anjing dan ayam. Biasanya hewan-hewan ini diburu harimau bila habitat harimau terganggu atau rusak sehingga memaksa harimau keluar dari habitatnya ke pemukiman atau persediaan mangsa di alam bebas sudah habis atau sangat berkurang jumlahnya.

Untuk memenuhi kebutuhan makannya, harimau berburu 3 – 6 hari sekali, tergantung besar kecil mangsa yang didapatkannya. Biasanya seekor harimau membutuhkan sekitar 6 – 7 kg daging per hari, bahkan kadang-kadang sampai 40 kg daging sekali makan. Besarnya jumlah kebutuhan ini tergantung dari apakah harimau tersebut mencari makan untuk dirinya sendiri atau harimau betina yang harus memberi makan anak-anaknya (Macdonald, 1986 ; Mountfort, 1973).

Masa hidup seekor harimau adalah sekitar 10 – 15 tahun. Harimau yang tinggal di penangkaran umumnya lebih lama lagi, dapat mencapai 16 – 25 tahun (Macdonald, 1986).

Harimau merupakan satwa dengan tingkat perkembangbiakan yang cukup tinggi. Kematangan secara seksual harimau betina adalah pada usia 3 – 4 tahun, sedangkan harimau jantan pada usia 4 – 5 tahun. Lama kehamilan harimau betina berkisar 102-110 hari Jumlah anak harimau pada sekali kelahiran jumlahnya berkisar antara 1 – 6 ekor, dan bahkan kadang-kadang lahir 7 ekor, tetapi dari jumlah tersebut yang mampu bertahan dan hidup sampai dewasa hanya dua atau tiga ekor saja. Harimau betina selama hidupnya dapat melahirkan anak dengan jumlah total sampai 30 ekor, dan setiap tahun dapat melahirkan anak. Jarak antar kelahiran kurang lebih 22 bulan, atau 2–3 tahun, tetapi dapat lebih cepat bila anaknya mati.

Harimau bukan jenis satwa yang biasa tinggal berkelompok melainkan jenis satwa soliter, yaitu satwa yang sebagian besar waktunya hidup menyendiri, kecuali selama musim kawin atau memelihara anak. Home range untuk seekor harimau betina adalah sekitar 20 km2 sedangkan untuk harimau jantan sekitar 60 – 100 km2. Tetapi angka tersebut bukan merupakan ketentuan yang pasti, karena dalam menentukan teritorinya juga dipengaruhi oleh keadaan geografi tanah dan banyaknya mangsa di daerah tersebut. Biasanya daerah teritori harimau jantan 3 – 4 kali lebih luas dibandingkan harimau betina. Di Way Kambas dalam 100 km2 di dihuni oleh 3 - 5 ekor harimau.

Harimau Sumatera merupakan satwa endemik yang penyebarannya hanya terdapat di Pulau Sumatera saja. Sebelumnya, populasi Harimau Sumatera sangat banyak tersebar, mulai dari Aceh, di daerah dataran rendah Indragiri, Lumbu Dalam, Sungai Litur, Batang Serangan, Jambi dan Sungai Siak, Silindung, bahkan juga di daratan Bengkalis dan Kepulauan Riau. Pada saat ini, jumlahnya jauh berkurang dengan penyebaran yang terbatas.

Menurut catatan yang ada pada tahun 1800 – 1900 jumlah Harimau Sumatera masih sangat banyak, mencapai puluhan ribu ekor. Pada tahun 1978, dari suatu survei diperkirakan jumlah Harimau Sumatera adalah sekitar 1000 ekor dan saat ini berkisar 500-600 ekor. Diperkirakan pengurangan jumlah Harimau Sumatera sebanyak paling tidak 30 ekor per tahun, dengan penyebab utama adalah : Konversi Hutan, Degradasi Habitat, Fragmentasi Habitat, Konflik Harimau dengan Manusia, Perburuan Harimau dan Mangsa.

Monitoring Populasi Harimau dan Habitatnya Jangka Panjang
Untuk mengetahui populasi, penyebaran dan pola aktivitas harimau sumatera di habitatnya, Program Konservasi Harimau Sumatera melaksanakan pemotretan dengan menggunakan Camera Infra merah.

Camera Inframerah dipasang ditempat-tempat lintasan harimau yang beroperasi selama 24 jam dalam jangka waktu tertentu. Secara otomatis camera akan memotret dan mencatat waktu setiap individu yang melewati lensa camera. Dengan demikian camera tidak saja akan memotret satwa harimau tetapi juga dan satwa mangsa harimau. Dengan menggunakan camera inframerah dalam jumlah yang cukup dan waktu yang lama, akan diperoleh data populasi dan penyebaran harimau sumatera dengan akurasi yang tinggi.

Harimau mati meninggalkan belangnya..............

Demikian pula untuk mengidentifikasi setiap individu harimau sumatera digunakan analisa pola loreng yang ada pada kulitnya, karena setiap individu harimau memiliki pola loreng yang berbeda dengan individu yang lain. Perbedaan pola loreng pada kulit harimau tersebut sama halnya dengan pola sidik jari manusia.

Selain dapat untuk mengidentifikasi individu harimau, hasil pemotretan dengan camera inframerah juga dapat digunakan untuk mengetahui pola aktifitas harian harimau sumatera, kepadatan dan keragaman jenis satwa mangsa juga keanekaragaman satwa liar lainnya. Pengembangan GIS dalam pengelolaan dan monitoring habitat dan penyebaran harimau sumatera juga menjadi bagian penting dalam kegiatan Program Konservasi Harimau Sumatera. Untuk itu secara periodik dilakukan pembaharuan data dan informasi sesuai perkembangan di lapangan.

Populasi Harimau Sumatera
Menurut catatan yang ada pada tahun 1800 – 1900 jumlah Harimau Sumatera masih sangat banyak, mencapai ribuan ekor. Pada tahun 1978, dari suatu survei diperkirakan jumlah Harimau Sumatera adalah sekitar 1000 ekor. Setelah itu Sumatera mengalami perkembangan yang sangat pesat antara lain di bidang pertanian, perkebunan dan kehutanan serta pembangunan pemukiman dan industri. Akibatnya habitat Harimau Sumatera semakin menurun yang otomatis berakibat pula pada populasinya. Diperkirakan saat ini populasi harimau di Sumatera sekitar 500 ekor, yang tersebar di kawasan konservasi utama 400 ekor dan di luar kawasan konservasi 100 ekor hidup.

Dari data yang ada terlihat adanya pengurangan jumlah Harimau Sumatera sebanyak kurang lebih 33 ekor per tahun. Dengan kondisi seperti ini maka apabila tidak dilakukan pengelolaan yang intensif harimau sumatera diperkirakan akan mengalami kepunahan dalam waktu sepuluh tahun mendatang.

Hasil survey dan monitoring populasi menggunakan kamera inframerah yang dilakukan dibebarapa habitat penting harimau diperoleh data populasi sebagai berikut :
  • Di Taman Nasional Way Kambas: 43-46 ekor, telah terpotret 44 individu,
  • Di Taman Nasional Bukit Tigapuluh: 23-26 ekor, telah terpotret 7 individu
  • Di Kawasan Hutan Senepis-Buluhala: 11-14 ekor, telah terpotret, 9 individu
Pengembangan Kawasan Perlindungan Harimau
Habitat alami harimau sumatera sudah mengalami degradasi dan terfragmentasi mejadi habitat-habita yang kecil. Demikian populasi harimau yang hidup di dalamnya sudah terpecah menjadi populasi-populasi kecil dan tersebar.

Populasi-populasi tersebut berada dalam status populasi yang sehat, populasi kurang sehat dan populasi tidak sehat serta populasi yang terpencil.

Untuk mengetahui status populasi dan kondisi habitat alami harimau yang tersebar Program Konservasi Harimau Sumatera melakukan identifikasi dan inventarisasi habitat dan populasi yang masih memungkinkan untuk diselamatkan. Kegiatan Identifikasi dan Inventarisasi habitat dan status populasi diprioritaskan pada Kelompok Hutan Bengalis (TCU 147), Kelompok Hutan Sungai Siak (TCU 149) dan Kelompok Hutan Sungai Kampar (TCU 150).

Selain itu Program Konservasi Harimau Sumatera juga memberikan bantuan teknis dan keahlian kepada Pemerintah Daerah maupun Pemerintah Pusat yang akan memperluas, mengembangkan atau mengusulkan kawasan konservasi baru yang berfungsi pula sebagai habitat dan tempat perlindungan harimau sumatera.

Sampai dengan pertengahan Tahun 2005 kawasan hutan yang telah dilakukan study sebagai habitat penting harimau sumatera, adalah:
  1. Kelompok hutan Sei Senepis-Buluhala di Kota Dumai yang terdapat dalam wilayah TCU 147
  2. Kawasan Hutan Penyangga Bukit Tigapuluh di Kab.Tanjung Jabung Barat, Kab. Tebo di Propinsi Jambi dan Kab. Indragiri Hilir dan Kab. Kuantan Senggigi di Provinsi Riau.
  3. Sebagian Kelompok Hutan Sungai Kampar (TCU 150) yang terletak di Kab. Pelalawan, Provinsi Riau.
Penanganan Harimau Bermasalah
Berdasarkan studi lapangan yang dilakukan Program Konservasi Harimau Sumatera adanya pembukaan hutan, eksploitasi hutan dan konversi vegetasi hutan alam menjadi tanaman monokultur merupakan sumber terjadinya konflik antara harimau dengan masyarakat desa maupun tenaga kerja pembuka hutan di Kota Dumai dan sekitarnya.

Pembukaan areal hutan dan konversi hutan alam di Di Kota Dumai dan sekitarnya telah menyebabkan :

  1. Menurunnya kwantitas, kwalitas dan daya dukung habitat terhadap harimau sumatera.
  2. Menurunnya populasi dan jenis satwa mangsa harimau seperti rusa, babi hutan, kera dll oleh karena beralih tempat, mengungsi ke tempat yang lebih baik dan karena mati.
  3. Tempat berlindung dan membesarkan anak menjadi hilang.
  4. Teritorial harimau sumatera menjadi berubah.

Keadaan tersebut telah menekan harimau sumatera untuk mencari teritorial baru dan masuk ke pemukiman untuk mencari mangsa, sehingga telah menyebabkan konflik antara harimau dengan manusia. Dalam kurun waktu 1996 – 2004 lebih dari 152 kasus konflik harimau dengan masyarakat yang mengakibatkan lebih dari 25 orang meninggal dunia, puluhan orang luka-luka dan ratusan ternak milik masyarakat desa dimangsa oleh harimau. Kerugian yang di derita oleh masyarakat sekitar kelompok hutan senepis yang disebabkan oleh konflik harimau selama ini, diantaranya berupa :
  1. Rasa Takut Yang Dialami oleh masyarakat
  2. Korban Ternak Luka-Luka dan Mati
  3. Korban Manusia Luka-Luka dan Meninggal
Belum adanya peraturan dan ketentuan tentang penetapan status harimau bermasalah serta belum adanya prosedur penanganan terhadap harimau bermasalah telah menyebabkan keragaman dalam penetapan dan penangana harimau bermasalah. Sebagian masyarakat melakukan tindakan sendiri dan tidak memperhatikan kaidah konservasi, yaitu dengan cara melakukan penangkapan dengan jerat bahkan sampai pada pembunuhan terhadap satwa tersebut. Kondisi seperti ini apabila tidak segera ditangani maka akan terjadi tindakan yang berulang-ulang dan dianggap benar. Selain itu penangkapan harimau bermasalah oleh oknum masyarakat tertentu sering disalahgunakan untuk melakukan pemburuan dan perdagangan harimau secara liar.

Penanganan harimau bermasalah yang dilaksanakan oleh Departemen Kehutanan selama ini masih terbatas pada penangkapan dan memindahkannya ke Lembaga Konservasi Eksitu. Keadaan ini kurang menjamin kelestarian harimau sumatera di habitat alaminya.

Agar penanganan harimau bermasalah dapat lebih menjamin kelestarian populasi harimau sumatera di alam, Program Konservasi Harimau Sumatera sejak Tahun 2003 mengembangkan “teknis penangkapan dan pelepasliaran kembali ke habitat alami” bagi harimau penyebab konflik.

Untuk menghindari pengaruh buruk akibat penangkapan, maka diupayakan secepat mungkin harimau yang berhasil ditangkap dengan segera dilepaskan ke habitatnya tanpa penggunaan obat bius. Sampai dengan Bulan Juni Tahun 2005 telah berhasil dilepasliarkan kehabitatnya 4 (empat) ekor harimau bermasalah di Hutan Senepis

Untuk membantu tugas-tugas Departemen Kehutanan c.q Direktorat Jenderal PHKA dalam penanganan konflik harimau, Program Konservasi telah menyusun Rancangan Protokol Penanganan Konflik antara Harimau dengan Masyarakat.

Penegakan Hukum
Dalam rangka meningkatkan pelaksanaan dan penegakan hukum terhadap tindak pidana bidang satwa liar, Program Konservasi Harimau Sumatera memfasilitasi Departemen Kehutanan c.q Direktorat Jenderal PHKA membentuk Tim Penanggulangan Perburuan dan Perdagangan Liar Satwa Dilindungi di Tingkat Daerah dan si Tingkat Pusat. Tim ini terdiri atas Unsur Kepolisian, Unsur Kejaksaan, Unsur Pengadilan, Unsur Departemen Kehutanan, Unsur Pemerintahan Daerah dan Lembaga Swadaya Masyarakat.

Selain itu Program Konservasi Harimau Sumatera juga memfasilitasi UPT PHKA di Daerah untuk memperoleh bantuan hukum dalam mendukung penyelesaian kasus yang berkaitan dengan tindak pidana bidang satwa liar khususnya spesies harimau.

Koordinasi dan Penyelarasan Persepsi
Dalam rangka menyelaraskan persepsi terhadap perlindungan harimau sumatera diantara aparatur pengaman dan penegak hukum perlu dilakukan ekspose secara kontinu, selain itu pengalaman Program Konservasi Harimau Sumatera mengadakan diskusi dengan Aparatur pengaman dan Penegak Hukum (Polhut, PPNS Kehutanan, Jaksa Penuntut Umum, Pemda, POLRI, TNI dan Hakim) tentang Penanganan Kasus Tindak Pidana Perburuan dan Perdagangan Harimau Sumatera dan Satwa Dilindungi Lainnya secara bersamaan dalam suatu kesempatan, telah memberikan manfaat yang sangat besar dalam proses peningkatan kualitas penegakan hukum di bidang wildlife crime.

Kunjungan aparatur penegak hukum ke lokasi-lokasi proyek konservasi alam di Kawasan Konservasi sangat membantu penyelarasan persepsi diantara apartur penegak hukum yang memiliki latar belakang pendidikan dan profesi beragam.

Untuk membantu Departemen Kehutanan dalam percepatan proses penyelesaian perkara diperlukan pula dukungan finansial dan fasilitasi dari stage holder terkait terhadap hambatan dan kendalla-kendala maupun kelemahan-kelemahan yang belum dapat diatasi atau dicukupi oleh Departemen Kehutanan. Sebagai Contoh, Program Konservasi Harimau Sumatera memfasilitasi Aparatur Pengaman dan Penegak Hukum (POLHUT, PPNS Dephut, Jaksa PU dan Hakim) dalam melakukan pembuktian, seperti: peninjauan dan olah Tempat Kejadian Perkara, Pemeriksaan dan Analisa Laboratorium, Penyediaan Saksi Ahli dan Dukungan Akomodasi bagi Tersangka serta Dukungan Administrasi Pemberkasan.

Pengembangan Tiger Protection Unit
Tiger Protection Unit (TPU) adalah Team Perlindungan Harimau dan Habitatnya yang terdiri atas Polisi Hutan dan Masyarakat Tempatan yang memiliki ketrampilan khusus dan dilengkapi dengan peralatan yang cukup untuk menanggulangi perburuan dan perdagangan liar harimau sumatera di Kawasan Konservasi dan Kawasan Hutan Lainnya. Tujuan pembentukan Tiger Protection Unit (TPU) adalah mewujudkan perlindungan harimau, satwa mangsa dan habitatnya secara efektif dan efisien yang melibatkan masyarakat secara aktif.
TPU mempunyai tugas untuk melakukan pencegahan, penindakan dan penanganan kasus perburuan harimau sumatera dan mangsanya sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.

Tugas-tugas tersebut diantaranya adalah:
  1. Melakukan pencegahan perburuan harimau sumatera, melalui kegiatan :
  2. Melakukan penghancuran perangkap-perangkap harimau, melalui kegiatan :
  3. Melakukan pemantuan populasi dan habitat harimau.
  4. Melakukan pengawasan dan identifikasi pemburu serta pedagang harimau.
  5. Melakukan penindakan terhadap pelaku tindak pidana yang tertangkap tangan.
Beberapa contoh hasil kerja Tiger Protection Unit, Integrated Tiger Protection and Monitoring Unit, Integrated Tiger Protection, Monitoring and Respont Unit diantaranta adalah :

TPU di TN Way Kambas (Tiger Protection Unit)

a. Tertangkapnya pelaku perburuan liar
b. Laporan terjadinya penebangan liar
c. Laporan terjadinya pengambilan ikan secara liar
d. Laporan terjadinya kebakaran hutan secara dini
e. Laporan terjadinya perambahan hutan
f. Tertangkapnya pelaku penebangan liar
g. Tertangkapnya pelaku pengambilan ikan secara liar
h. Berhasi dimusnahkannya jerat dan perangkap satwa harimau dan badak
i. Laporan pencurian hasil hutan non kayu

ITPMU di TN Bukit Tigapuluh (Integrated Tiger Protection and Monitoring Unit)

a. Tertangkapnya jaringan perburuan dan perdagang harimau secara liar
b. Laporan dan informasi terjadinya penebangan liar
c. Laporan terjadinya kebakaran hutan secara dini
d. Berhasilnya dipadamkannya sumber api dan kebakaran dini
e. Tertangkapnya pelaku illegal loging
f. Berhasil dimusnahkannya jerat dan perangkap satwa harimau

ITPMRU di Dumai (Integrated Tiger Protection, Monitoring and Respont Unit)

a. Melakukan penangkapan dan peliaran harimau penyebab konflik
b. Terusir dan berhasi dihalaunya harimau penyebab konflik
c. Terevakuasinya korban konflik harimau dengan baik
d. Laporan dan informasi terjadinya penebangan liar
e. Tertangkapnya pelaku penebangan liar

Kampanye Penyadaran Masyarakat
Kampanye penyadaran masyarakat bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan manfaat dan arti pentingnya harimau sumatera bagi kehidupan manusia. Selain itu kampanye ini juga menyebarluaskan informasi kepada masyarakat luas bahwa populasi harimau sumatera di habitatnya sudah dalam keadaan kritis/hampir punah serta harimau sumatera telah ditetapkan sebagai satwa liar yang dilindungi oleh undang-undang. Sasaran utama dari kampanye ini adalah Aparatur Pemerintah, Pengusaha dan Masyarakat di sekitar hutan. Sesuai dengan sasarannya maka materi kampanye yang diutamakan adalah penegakan hukum.

Kampanye dilakukan dengan menggunakan berbagai media masa diantaranya: melalui pameran, ekspose, diskusi dan seminar, media cetak, media elektronik dan internet.
Doc. PKHS Gambar. Pembakaran Offsetan Harimau

Pengembangan Pusat Konservasi Harimau
Kawasan hutan di Pulau Sumatera telah mengalami degradasi yang sangat berat, selain itu banyaknya pembukaan wilayah hutan alam untuk berbagai kepentingan telah menyebabkan fragmentasi hutan dan fragmentasi habitat harimau. Fragmentasi habitat menyebabkan populasi harimau di terbagi menjadi populasi-populasi kecil yang tersebar dan tidak dapat berinteraksi, sehingga harimau terancam punah karena populasinya tidak sehat.

Pemindahan harimau sumatera dari habitat alaminya ke Lembaga Konservasi Eksitu kurang menjamin kelestarian populasi harimau sumatera di alam, oleh karena itu perlu upaya penanganan yang mampu mengatasi penurunan populasi harimau di alam akibat penangkapan dan pemindahan harimau konflik. Salah satu pendekatan konservasi dalam penanganannya adalah membangun areal rehabilitasi harimau sumatera di habitat alamnya yang dikelola dengan intensif sehingga harimau dapat berkembang biak secara semi alamiah. System pengelolaan ini disebut dengan “Sumatran Tiger Centre” atau “Pusat Perlindungan Harimau Sumatera”.

Manfaat dari Tiger Centre adalah sebagai koridor buatan yang menghubungkan populasi-populasi yang terfragmentasi sehingga terjadi komunikasi diantara populasi, sebagai tempat untuk merehabilitasi harimau yang bermasalah dengan manusia, harimau yang habitatnya sempit dan terisolasi karena desakan pembukaan wilayah serta sebagai pusat riset dan pendidikan tentang harimau sumatera di dunia. Selain itu Tiger Centre juga dapat berfungsi sebagai tempat kunjungan wisata yang bertaraf internasional.

Dari beberapa Calon Lokasi Tiger Centre yang diusukan berdasarkan kelayakan ekologi dan pertimbangan keamanan bagi masyarakat maka Kawasan Konservasi Harimau Sumatera Senepis di Kota Dumai-Propinsi Riau merupakan areal yang ideal sebagai tempat Tiger Centre. Model dan system pengelolaan Tiger Centre akan melibatkan berbagai institusi dalam dan luar negeri oleh karena itu akan dibuat dalam perencanaan pengelolaan tersendiri.

Peningkatan Sumber Daya Manusia dan Peningkatan Kwalitas Pegawai
Untuk kelancaran pelaksanaan kegiatan dan kelangsungan pelaksanaan kegiatan pasca Program Konservasi Harimau Sumatera, dibutuhkan sumberdaya pegawai yang mampu melaksanakan kegiatan secara mandiri. Untuk kebutuhan tersebut perlu upaya penuningkatan kwalitas pegawai sesuai dengan jenis dan keahlian yang diperlukan melalui pelatihan, magang, studi banding dan diskusi maupun seminar. Prioritas keahlian dan ketrampilan yang mendapat fasilitasi Program Konservasi Harimau Sumatera adalah sebagai berikut:
  1. Peningkatan Kemampuan dalam Penggunaan GIS
  2. Peningkatan Kemampuan dalam Penggunaan Alat Navigasi
  3. Peningkatan Kemampuan dalam Melaksanakan Survey Harimau Secara Cepat
  4. Peningkatan Kemampuan dalam Pengelolaan Kamera Inframerah
  5. Peningkatan Kemampuan dalam Penegakan Hukum
  6. Peningkatan Kemampuan dalam Penanganan Konflik Harimau
  7. Peningkatan Kemampuan dalam Analisa Habitat
Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat
Dalam rangka meningkatkan kesejahteran masyarakat khususnya yang berada di dalam dan sekitar hutan, suatu contoh kegiatan yang dilakukan oleh Program Konservasi Harimau Sumatera dalam membantu Pemerintah Daerah, diantaranya adalah:
  1. Melibatkan masyarakat dalam kegiatan perlindungan harimau sebagai Anggauta Tiger Protection Unit.
  2. Memfasilitasi penyelenggaraan Pendidikan Dasar Rumah Sekolah bagi Masyarakat Suku Talang Mamak di Datai yang hidup terpencil di dalam Taman Nasional Bukit Tigapuluh
  3. Memberikan pendampingan kepada Masyarakat Talang Mamak dalam pengembangan tanaman hutan yang bernilai ekonomis, seperti: Rotan Jernang, Pohon Kemenyan dan lain-lain.
  4. Memfasilitasi pelayanan kesehata bagi masyarakat terpencil.
Penutup
Perlindungan harimau sumatera, satwa mangsa dan habitatnya merupakan komponen penting dan kompleks dalam usaha melestarikan harimau sumatera. Oleh karena itu peranserta masyarakat dan institusi terkait baik Pemerintah, Badan Usaha maupun Lembaga Swadaya Masyarakat dalam konservasi alam hayati perlu terlibat secara aktif dan terencana.

Dengan keadaan dan persoalan habitat, populasi harimau, satwa mangsa dan tingkat kesejahteraan masyarakat saat ini maka untuk mencapai keberhasilan dala melestarikan harimau sumatera harus dilakukan upaya-upaya konservasi secara komprehensip.

Kesejahteraan Masyarakat, Kesadaran akan konservasi alam hayati bagi Wakil Rakyat, Pejabat Negara dan Pemerintah maupun Badan Usaha, di Tingkat Lokal, Daerah, Nasional maupun Internasional merupakan kunci keberhasilan konservasi harimau sumatera.

DAFTAR PUSTAKA
  • Dinerstein, E., J. Robinson, A. Rabinowitz, T. Mathew, E. Wikramanayake, U. Karanth, D. Olson, P. Hedao, dan M. Connor. 1997. “A Framework for Identifying High Priority Areas for the Conservation of Free-Ranging Tigers” dalam A Framework for Identifying High Priority Areas and Actions for the Conservation of Tigers in the Wild. World Wildlife Fund dan Wildlife Conservation Society.
  • Hasiholan, W. 2005. Pengalaman Dalam Implementasi Konservasi Harimau Sumatera Secara Insitu di Pulau Sumatera. PKHS. Bogor.
  • Hasiholan, W. Sinaga, DW dan Franklin N. 2003. Draft Protokol Penanganan Konflik Antara Harimau dengan Masyarakat. PKHS. Bogor.
  • Hasiholan, W. 2003. Program Konservasi Harimau Sumatera. PKHS. Bogor.
  • Program Konservasi Harimau Sumatera. 2004. Data Harimau Sumatera. PKHS. Bogor
  • Program Konservasi Harimau Sumatera . 2005. Buku Informasi Volume I. PKHS. Bogor
  • Tilson, R. dan S. Christie. 1999. “Effective Tiger Conservation Requires Cooperation : Zoo as A Support for Wild Tigers,” dalam Riding The Tiger. Tiger Conservation in Human Dominated Landscapes. Ed. : J. Seidensticker, S. Christie, dan P. Jackson. Cambridge University Press. London.
  • Tilson, R., P. Nyhus, P. Jackson, H. Quigley, M. Hornocker, J. Ginsberg, D. Phemister, N. Sherman, dan J. Seidensticker (ed.). 2000. Securing a Future for the World’s Wild Tigers – Executive Summary Year of the Tiger Conference. Save The Tiger Fund, National Fish and Wildlife Foundation. Washington, D.C.
Oleh: Waldemar Hasiholan
Program Konservasi Harimau Sumatera
Kerjasama antara Departemen Kehutanan
dengan The Tiger Foundation dan Sumatran Tiger Trust

Berita Lengkap...

02 December 2005

Wildlife Protection Unit Training

Basic Level Protection Course - January 2006 - to be held in Bukit Tigapuluh National Park, Riau, Sumatra - Indonesia.

A month of intense field training for Tiger and Orangutan Protection Units is being organised by STCP for December 2005, and the offer to participate is being extended to other Indonesian and international conservation groups operating in Sumatra. At the same time the STCP and Sumatran Orangutan Conservation Program are expanding their protection of the critical Bukit Tigapuluh habitat by increasing Protection Units from 5 to 7 teams. This move occurs simultaneously with the ongoing mission by STCP to double the size of the Bukit Tigapuluh NP through negotiations with local Government. If this is successful Bukit Tigapuluh will become the largest lowland protected forest in Sumatra. It will also be the most intensely protected - ensuring a future for tigers and orangutans in the wild. For more information (in English) see our Wild Tiger news website.

For further information contact:

Waldemar Hasiholan,
Philip Wells,
M. Yunus,
Neil Franklin.

Berita Lengkap...